Jumat, 04 November 2011

kajian

Munculnya Berbagai Aliran

     Diawal abad kedua Hijriah, orang Islam mulai marak mendiskusikan hal-hal seputar akidah, mereka membentuk kelompok-kelompok diskusi. Berangkat dari itu berdirilah beberapa aliran,  sebagian terus berevolusi sampai sekarang dan sebagiannya punah termakan waktu, ada  sepuluh aliran yang seringkali berselisih dalam masalah akidah:
  1. Hasyawiyah   2. Hanabilah  3. Dzohiriah  4. Asy'airah  5. Maturidiah
       1. Ismailiah       2. Muktazilah  3. Syiah Istna Asyariah   4. Khawarij 5. Zaidiyah

      Sebelum saya jelaskan biografi aliran-aliran yang telah disebut di atas, terlebih dahulu saya tampilkan corak dan cirri ulama salaf ,  sehingga kita tidak mudah  terperangkap dengan pengakuan sebuah sekte yang mengklaim dirinya Salafi dan menganggap paling benar. Para ulama memiliki pandangan yang beragam tentang makna istilah salaf  asshalih, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah para Sahabat. Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud  adalah sahabat dan tabi’in. Dan ada pula yang mengatakan bahwa salafush shalih meliputi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in,  tapi yang paling shahih dan yang terpopuler adalah pendapat ketiga[1]. Cirri-ciri Salafus soleh diantaranya:

1.      Mereka selalu moderat dalam bertindak dengan berpedoman Al Quran dan Hadis tanpa
abai terhadap akal.
2.      Tidak belebihan dalam menggunakan takwil kecuali dibutuhkan .
3.      Mereka hanya menerima dalil naqli yang sohih dengan meruntut dari yang paling atas, mulai dari Al Quran, Hadis Mutawatir, Hadis Ahad. Dan mereka selalu berhati-hati dengan Hadis yang dianggapDhoif apalagi Maudu'. Bisa dikatakan mereka tidak memakai keduanya dalam masalah hukum dan akidah.
4.      Dalam berbuat mereka selalu mendahulukan syariat baik ushuliah (induk) atau Furuiah (cabang)

Semua aliran mengklaim diri sebagai pengikut Salafus solih meski ajarannya bertentangan dengan ajaran salaf. Dan hal-hal seperti ini yang perlu kita diperhatikan

1.      Mazdhab Hasyawiah

    Hasyawiyah terdiri dari beberapa kelompok yang berbeda dan menyatu dalam satu spirit, mereka cenderung fanati terhadap nash serta memahaminya secara leterlek.
Hasyawiyah diambil dari kalimat hasywi dan idkhol yang berarti menyisipkan atau memasukkan, karena aliran Hasyawiah seringkali memasukan Hadis Maudui ke dalam jajaran Hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah[2]. Hasyawiah tidak hanya berada di seputar ilmu Kalam saja, ada Hasyawiah yang musyabbihah(antropomorfis) yang dinisbatkan kepada  mazhab Hanabilah meski muhaqqiq mazhab Hanabilah menolaknya. [3] Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata "bahwa ahli bi’dah biasanya menamakan ahli sunah dengan nama yang dibuat-buat menurut kehendaknya". Ibnu Taymiah berkata bahwa yang pertama kali mengatakan Hasyawiah adalah Umar bin Ubaid. [4] Ada juga Hasyawiah dalam ilmu tasawwuf  yang paling diperdebatkan di kalangan Muslim. Diantara tokohnya Salimah, kelompok ini mempunyai konsep tasybih dan tajsim.[5] Ada juga haysawiah dalam ilmu Hadi, dalam Tafsir dengan tokohnya Maqotil bin Sulaiman dll[6],

 Anasir Prinsip Hasyawiyah Diringkas Sebagai Berikut

1.      Selalu berpegang kepada nash (teks-teks agama) baik dalam masalah keyakinan atau agama serta abai terhadap peran akal dalam hal ini.
2.      Aliran Hasyawiah seringkali keliru dalam memahami nas sebab mengabaikan akal. Ibnu Rusdi, bahwa dalam memahami Nas membutuhkan peran akal[7],
3.      Kelompok tekstualis (naqliyin) dengan mengetengahkan teori tasybih (antropomurfis) dan tajsim (membadankan tuhan).

2.      Mazhab Hanabilah

     Pendiri mazhab ini adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy-Syibani, lahir di Baghdad tahun 136 H -241 H.  Imam Ahmad termasuk ulama' salaf yang selalu konsisten dalam meneliti hadis yang berkanaan dengan keyakinan, beliau bukan ulama yang tekstual seperti yang dituduhkan oleh banyak kalangan, ia mempercayai Qiyas dan Ijma’ hanya saja beliau dalam memutuskan hukum tidak mengambil Qias atau Ijma' selama masih ada dalam Al Quran dan Hadis, Qias menurut imam Ahmad adalah alternatif terakhir dalam memutuskan hokum.[8] Dari sinilah Imam Ahmad dianggap tekstualis. menurut hemat saya, apa yang dilakukan Imam Ahmad sah-sah saja sebagai bentuk ijtihad beliau

  Aliran-aliran yang dinisbatkan kepada Imam Ahmad terbagi dalam tiga kelompok,
a.       kelompok pertama lebih condong ke arah akal meski tetap berpijak pada naql(teks-teks agama) dalam gaya pemikiran Islam
b.        kelompok kedua memiliki inklinasi terhadap nash dan seringkali terpaku pada hal-hal dhohir. Seperti fanatic tentang arah, juga dalam memalingkan kajian penting yang tidak terlalu dipermasalahkan sebelumnya. Seperti kalamullah yang mereka anggap berhuruf dan bersuara
c.        kelompok ketiga adalah sebuah aliran yang moderat dan tidak berpihak kepada dua aliran sebelumnya baik itu kelompok takstualis ataupun rasionalis"Menurut saya kelompok ini adalah kelompok yang paling tepat bila dinisbatkan kepada Imam Ahmad karena perinsipnya sama yaitu berpegang pada akal dan naql”.

3.      Mazhab Dzohiriah

     Mazhab dhohiriah dirintis oleh Daud bin Ali Al Baghdadi lahir tahun 202 H dan menuai puncak kematangan di Maghrib (Maroko) ditangan Ibnu Hazem yang termasuk pemikir dari Andalus (w. 406 H). Mazhab ini ada kemiripan dengan  aliran Hanabilah yang tekstualis murni. Ibnu Hazem tipikal sosok yang keras, hal ini terlihat dari karya-karyanya yang seringkali menampilkan keritikan pedas terhadap lawan politiknya atau dengan orang yang tidak seideologi. Dalam karyanya, Ar Risalah, beliau mengkeritik kelompok yang belebihan terhadap takwil, seperti Muktazila. Sedangkan dalam bukunya Al Fasal beliau juga berkata"Sesungguhnya agama Allah itu jelas dan tidak ada hal yang tertutup, semuanya menjadi dalil, dan tidak pernah mempunyai toleransi!. [9] Sebenarnya Ibnu Hazem tidak bisa dikatakan mengabaikan akal secara keseluruhan, hanya saja beliau tidak memerankan akal dalam menggali hukum syar'i. Ia juga mengaku dirinya Ahlus sunnah wal jamaah tapi dalam memahami Al-Quran tidak seperti orang-orang Ahlus sunnah pada umumnya seperti dalam memahami ayat الرحمن على العرش استوىyang menurut selainya mempunyai arti Istila'



4. Aliran Asy'ariah

        Aliran Asy’ariah dibangun oleh Abu Hasan Ali bin Isma’il Al-Asy’ari (873-935 M) Asy-ariah merupakan aliran yang hidup sampai sekarang. Aliran ini tumbuh diawal abad ke-4 dan berbasis Ahlus sunnah wal jamah. Imam Asy'ari sebelumnya menganut aliran Muktazila karena beliau lahir dan dibesarkan di lingkungan yang mempunyai paham Muktazilah, seiring dengan berjalannya waktu, beliau mulai merasakan keragu dengan keyakinannya sehingga seringkali terjadilah perselisihan paham antara beliau dan gurunya sendiri Abu Ali Juba'i hingga akhirnya beliau menyatakan keluar dari Muktazila di akhir abad ke-3 H kemudian menganut paham Ahlus sunnah wal jamaah. Dalam hal pengetahuan, aliran Asyariah memilih jalan antara wahyu dan akal(moderat), dalam konsep ketuhanan berada diantara tasybih (antropomurfis) dan tanzih (mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas). Sedangkan dalam konsep kemanusiaan memilih antara determinisme (jabr) dan tafwid (tidak mau takwi).  Meski aliran Asyariah menganggap dirinya moderat tapi tidak pernah benar-benar moderat, terkadang ia terpaku pada teks, kadang juga condong pada takwil.   

      Mazhab Asy'ari melalui dua periode pertama dimulai dari perintisnya dan berahir dimasa Al Qodli Al Baqillani ( w. 403 H.) Periode kedua dimulai dari Ibnu Fauroq al-Asfihani  wafat tahun 406 H dan berahir pada masa Syahrostani ( w. 548 H.) setelah itu Alira Asya'irah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

4.      Aliran Maturidiyah

Pendiri aliran Maturidiyah adalah Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi As Samarqandi (w. 333 H.)
Dalam tubuh aliran Maturidiyah ada tiga perbedaan yang paling mencolok dengan aliran-aliran lain, pertama dalam masalah ketuhanan Maturidiyah berpendapat bahwa sifat Allah itu qidam (tidak berawal). Hal ini adalah bentuk sanggahan kepada Muktazila yang mengatakan bahwa sifat Iradah dan kalam termasuk hadist(baru). Adapun dalam masalah kalam, Maturidiyah membedakan antara kalam nafsi dan kalam lafdi Kedua Maturidiyah adalah aliran yang berperinsip moderat dalam hal kebebasan manusia, ketiga pendapat maturidiyah mengenai retifikasi perkara baik dan buruk jauh berbeda dengan apa yang dikatakan kelompok Asyairah,  mereka berkata bahwa baik dan buruk merupakan dua sifat yang dapat diindra oleh akal. Sejarah kecemerlangan aliran Maturidiyah melaluli dua periode, pertama mulai dari tumbuhnya hingga  menuai kejayaan di masa pendirinya yang berada di kawasan Asia Tengah yang merupakan salah satu bagian dari samarkand di Mawara Al Nahr (sekarang wilayah Asia Tengah, yang sekarang kira-kira adalah wilayah Uzbekistan, sebagian dari Turkmenistan dan Kazakistan).

Penutup
    Teologi Ahlu Sunnah adalah hasil rancangan dan bangunan dua orang, yang pertama bermazhab Hanafi dan yang kedua bermazhab Syafi’i. Yang bermazhab Hanafi yaitu Abu Mansur Maturidi dan yang Syafi’i Abu Al Hasan Asy’ari.[10]
Muslihudin Qastallani mengatakan,” orang yang paling terkenal dalam masalah ilmu teologi di tanah Khurasan, Irak, Syam dan sebagian besar wilayah yang lain adalah Abu Al Hasan Asy’ari dan di Mawara Al Nahr adalah Abu Mansur Maturidi”[11]




[1]  Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid Asma’ wa Shifat’ [halaman 53-54]
[2] Al-Mufid, hal,9
[3] Ibnu Jauzi, Daf'us syibhit tasybih, hal 29
[4] Ibnu Taymiah, Manhaj As Sunnah An Nabawiah
[5] Nasyar, Nasyatul fikri, 1/616-612
[6] Syahrostani, Milal, 1/139.
[7] Ibnu Rusydi, Manahij, hal, 134
[8] Dr. rosyad Hasan Kholil, tarikh At-Tasyri' Al Islami, hal,314
[9] Al Fasal, 2/111
[10] Miftahu Saadah wa Misbahu Siyadah, jilid 2, hlmn. 22-23
[11] syarah Al Aqa’id Al Nasafiah yang telah diterbitkan bersama dengan syarahnya, hal. 17.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More